HARI-hari terakhir ini saya tertegun menyaksikan gempuran Israel ke Jalur Gaza.Menhan Israel Ehud Barak mengatakan serangan ini adalah untuk melumpuhkan Hamas.
Barak menyebut serangan ini sebagai surgical attack, membedah Gaza sebelum melancarkan serangan darat.
Militer Israel mengisolasi Gaza, wartawan dilarang masuk ke Gaza. Maka jika serangan darat dilancarkan, kita tidak akan tahu berapa jumlah korban. Kita tidak akan pernah tahu apa memang ini adalah perang yang adil (a just war).
Arab tidak pernah serius melawan Israel. Saya curiga Mesir sudah "dilapori" rencana serangan ini. Pasalnya, empat hari sebelum serangan, Menlu Israel Tpizi Livni terbang ke Kairo bertemu dengan Presiden Hosni Mubarak.
Seperti raja-raja Arab lainnya, Presiden Mubarak adalah tokoh yang tidak suka kepada Hamas. Maka kutukan Arab terhadap Israel adalah lip service. Apalagi serangan ini menaikkan harga minyak dunia. Raja-raja minyak akan makin berpesta pora.
Malangnya, saudara sesama Palestina di belahan Tepi Barat, tampaknya juga setengah mensyukuri serbuan ini. Faksi Fattah pimpinan Presiden Mahmud Abbas juga tidak akur dengan Hamas.
Kemunafikan Arab inilah yang menyebabkan upaya-upaya diplomatik berjalan bertele-tele dan hanya sebatas formalitas saja. Karena itu, upaya diplomatik tak akan pernah sampai pada kata sepakat.
Faktor inilah yang menyebabkan Israel begitu leluasa menggempur dan membantai ratusan (kalau perlu ribuan) nyawa. Toh tidak akan pernah ada yang menghukum dia.
Sebentar lagi Gaza akan diporakporandakan lewat serangan darat. Israel akan menduduki Gaza dalam waktu yang lama. Maka wilayah Palestina akan makin menyempit, yaitu Tepi Barat saja. Oh Gaza yang malang.***
Thursday, January 01, 2009
Monday, December 22, 2008
Ibu
Bu...
Ibu...
Ibuuuu...
Waktu kecil kau milik orangtuamu
Beranjak dewasa kau milik suamimu
Habis melahirkan, kau milik anakmu
Ibu adalah perempuan
Perempuan tidak pernah memiliki dirinya sendiri
Mengibu adalah sebuah keikhlasan
menumbuhkan anak-anakmu
bak teratai mengelopak
Ibu adalah perempuan
Perempuan tak pernah memiliki dirinya sendiri
tapi justru karena itulah dia memiliki segalanya
bahkan..
surga pun di telapak kaki ibu.
Bandung 21 Desember (Pas HUT saya)
Dalam rangka hari Ibu 22 Desember, dan HUT ke-70 Ibunda tercinta Hj. Poppy Sofiah, 25Desember. Mudah-mudahan bisa dibaca kelak oleh putri saya Nina yang pada 24 Desember ini ulang taun.
Ibu...
Ibuuuu...
Waktu kecil kau milik orangtuamu
Beranjak dewasa kau milik suamimu
Habis melahirkan, kau milik anakmu
Ibu adalah perempuan
Perempuan tidak pernah memiliki dirinya sendiri
Mengibu adalah sebuah keikhlasan
menumbuhkan anak-anakmu
bak teratai mengelopak
Ibu adalah perempuan
Perempuan tak pernah memiliki dirinya sendiri
tapi justru karena itulah dia memiliki segalanya
bahkan..
surga pun di telapak kaki ibu.
Bandung 21 Desember (Pas HUT saya)
Dalam rangka hari Ibu 22 Desember, dan HUT ke-70 Ibunda tercinta Hj. Poppy Sofiah, 25Desember. Mudah-mudahan bisa dibaca kelak oleh putri saya Nina yang pada 24 Desember ini ulang taun.
Monday, December 08, 2008
Dosa yang Kusetujui
BILA ada dosa yang aku setujui, itu adalah dosa ketika Adam dan Hawa memakan buah khuldi. Karena memakan buah terlarang itu, Adam dan Hawa di buang ke dunia.
***
Di surga, segalanya gratis. Makan, minum, bahkan bertemu Tuhan sekali pun, semuanya gratis, tanpa usaha tanpa perjuangan. Tidak ada panas yang terlalu panas, tidak ada dingin yang terlalu dingin.
Memakan buah khuldi adalah kecerobohan, tapi itu adalah keputusan manusiawi. Manusia tercipta dari tanah kotor dan tiupan ruh Tuhan. Jadi, ada sifat membantah dan sifat mulia sekaligus.
Manusia bukan malaikat. Malaikat tercipta hanya dari tiupan ruh Tuhan saja. Sungguh kita ini bukan malaikat.
Karena dibuang ke dunia itu, segalanya kini tidak gratis. Adam dibuang jauh dari Hawa. Untuk mewujudkan saling cintanya, Adam dan Hawa harus berjalan tertatih-tatih ribuan kilometer, ribuan tahun. Makan, minum pun tidak gratis.
Ingin bertemu Tuhan pun tidak bisa lagi, semuanya harus melalui ikhtiar dan doa.
Semua akal, pikiran dan perasaan dicurahkan. Semua fungsi eksistensial manusiawi pun dikerahkan. Jauh sebelum dinyatakan oleh Rene Descartes tentang cogito ergo sum - aku berpikir karena itu aku ada, atau jauh sebelum Albert Camus mengatakan "Aku memberontak karena itu aku Ada", Adam dan Hawa sudah melakukannya.
Itulah sejarah manusia. Dia harus memilih, apakah dia mau menjadi manusia hanya seonggok daging saja, atau dia menjadi insan kamil - yakni manusia yang dibentuk oleh perjuangan dan usaha-usaha ekstensial.
Meraih cinta dan mendekat kepada Tuhan adalah sebuah pengurbanan (sacrifice).
Hidup adalah jalan berliku, naik dan turun. Jika manusia tidak mau ambil risiko, dia hanya menjadi mahluk being saja. Namun jika berani menghadapi hidup, dia adalah mahluk becoming. Mahluk "menjadi" yang ingin berusaha dekat dan kembali kepada Tuhannya.
Hanya orang-orang "becoming" sajalah yang akan mendapatkan janji Tuhan:
Yaa ayatuhannafsul muthmainnah..
Irji’i ila rabbiki raadiyatam madriiyah..
Fadkhulii fii ibadi,
Wadkhuli jannati..
Hai jiwa yang tenang..
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya..
Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku,
Dan masuklah ke dalam syurga-Ku..
Terima Kasih Ayahanda Adam dan Ibunda Hawa.
Kalian telah memberikan pelajaran berharga.
SELAMAT IDULADHA 1429 H.***
***
Di surga, segalanya gratis. Makan, minum, bahkan bertemu Tuhan sekali pun, semuanya gratis, tanpa usaha tanpa perjuangan. Tidak ada panas yang terlalu panas, tidak ada dingin yang terlalu dingin.
Memakan buah khuldi adalah kecerobohan, tapi itu adalah keputusan manusiawi. Manusia tercipta dari tanah kotor dan tiupan ruh Tuhan. Jadi, ada sifat membantah dan sifat mulia sekaligus.
Manusia bukan malaikat. Malaikat tercipta hanya dari tiupan ruh Tuhan saja. Sungguh kita ini bukan malaikat.
Karena dibuang ke dunia itu, segalanya kini tidak gratis. Adam dibuang jauh dari Hawa. Untuk mewujudkan saling cintanya, Adam dan Hawa harus berjalan tertatih-tatih ribuan kilometer, ribuan tahun. Makan, minum pun tidak gratis.
Ingin bertemu Tuhan pun tidak bisa lagi, semuanya harus melalui ikhtiar dan doa.
Semua akal, pikiran dan perasaan dicurahkan. Semua fungsi eksistensial manusiawi pun dikerahkan. Jauh sebelum dinyatakan oleh Rene Descartes tentang cogito ergo sum - aku berpikir karena itu aku ada, atau jauh sebelum Albert Camus mengatakan "Aku memberontak karena itu aku Ada", Adam dan Hawa sudah melakukannya.
Itulah sejarah manusia. Dia harus memilih, apakah dia mau menjadi manusia hanya seonggok daging saja, atau dia menjadi insan kamil - yakni manusia yang dibentuk oleh perjuangan dan usaha-usaha ekstensial.
Meraih cinta dan mendekat kepada Tuhan adalah sebuah pengurbanan (sacrifice).
Hidup adalah jalan berliku, naik dan turun. Jika manusia tidak mau ambil risiko, dia hanya menjadi mahluk being saja. Namun jika berani menghadapi hidup, dia adalah mahluk becoming. Mahluk "menjadi" yang ingin berusaha dekat dan kembali kepada Tuhannya.
Hanya orang-orang "becoming" sajalah yang akan mendapatkan janji Tuhan:
Yaa ayatuhannafsul muthmainnah..
Irji’i ila rabbiki raadiyatam madriiyah..
Fadkhulii fii ibadi,
Wadkhuli jannati..
Hai jiwa yang tenang..
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya..
Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku,
Dan masuklah ke dalam syurga-Ku..
Terima Kasih Ayahanda Adam dan Ibunda Hawa.
Kalian telah memberikan pelajaran berharga.
SELAMAT IDULADHA 1429 H.***
Friday, December 05, 2008
Becak Mang Engkon Raib
USIA Mang Engkon sudah lebih dari enam puluh. Mungkin enam puluh lima, dia sendiri tidak ingat. Tubuhnya seperti papan, hitam legam, peyot. Setiap hari pekerjaan dia adalah menggenjot becak di kompleks kami, Kompleks Parakan Bandung. Sebulan sekali dia pulang ke Sukabumi untuk menyetorkan hasil genjotannya kepada istri dan anaknya.
Umurnya yang tua itu tidak memungkinkan lagi bersaing dengan para pengemudi becak lainnya yang lebih muda, yang mampu menerobos ganasnya jalan by pass, atau Soekarno Hatta. Mang Engkon lebih memilih mangkal di dalam kompleks. Becak biru tua adalah alat dia berjihad mencari nafkah. Lumayan di kompleks banyak yang meminta bantuan dia, mulai membelikan Aqua galon, mengantar anak ke TK Luqmanul Hakim, hingga menyuruh membelikan bunga tanam di depan kompleks. Mang Engkon juga menjadi mata dan telinga keamanan kompleks. Kalau ada yang mencurigakan, dia suka laporkan ke hansip.
Di pertigaan jalan Parakan Elok dan Parakan Asih, ada kios milik Mang Entis dan Burhan. Di samping kios itu ada brandgang yang disulap Mang Ekon menjadi tempat dia tidur. Mungkin karena bertahun-tahun tidur di situ, dia punya penyakit bronchitis. Kadang kalau sakit, saya suka minta tolong Dedi atau dokter Rachmat Gunadi untuk memeriksanya. Beruntung, para dokter baik tiu selalu mau diganggu untuk urusan warga.
Malah sekalian suka memberi uang buat Mang Engkon untuk membeli obat.
Nah...ada satu hal yang membuat penghuni kompleks agak kesal kalau menolong Mang Engkon saat dia sakit. Setiap dapat uang bantuan, dia selalu nggak mau membelikannya untuk obat.
"Lebar...artos sakieu ageungna mending dicandak wae ka lembur."
(Sayang, uang sebegini besarnya mending dibawa pulang ke kampung).
Begitula Engkon..
Kalau sudah sehat, dia mangkal dan menggenjot lagi si beca birunya.
***
Jumat 28 November, sekitar jam 9 pagi saya berangkat ke kantor.
Saat melewati kios Ohan, saya melihat Engkon tengah duduk termenung. Dia memicing-micingkan matanya. Keriput di kelopak matanya makin kentara.
Saya berhenti sebentar sambil bertanya:
"Kunaon Mang Engkon siga nu sedih?"
("Kenapa Mang Engkon, seperti yang sedih?")
Ditanya begitu, Engkon tak menjawab. Mungkin karena sedihnya. Dia cuma menatap padaku.
Mang Entis lah yang menjawab."Ada yang menipu pak. Becaknya diambil orang," kata Entis.
Sehari sebelumnya, kata Entis, ada dua orang minta diantar ke Jalan Mohammad Toha untuk mengambil barang pindahan. Engkon sendiri sebetulhnya sempat menolak, karena untuk ukuran becak tua dengan pengemudi tua, Jalan Mohammad Toha itu cukup jauh dari Jalan Buah Batu.
Namun karena tergiur tawaran ongkos yang besar, Engkon pun mau.
Sampai di sebuah gang di jalan Moh. Toha, satu orang mengajak Engkon untuk ikut ke dalam gang, di mana becak enggak bisa masuk. Seorang lagi menunggu di becak Engkon.
Engkon dan si pemuda itu berjalan cukup jauh ke dalam gang yang berbelit-belit itu, sampai suatu saat pemuda itu masuk ke gang lain, dan tiba-tiba menghilang!!
Mang Engkon bingung mencari-cari pemuda itu sampai setengah jam lebih. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke becaknya.
Sampai di ujung depan gang, Engkon kaget setengah mati, becaknya sudah raib!
Langsung dia terduduk lemas di mulut gang. Sadar dia tertipu, orang tua itu cuma bisa menangis. Rasa kalut menggelayut. Dia ingat kepada istrinya di kampung. Orang-orang pun mengerumuninya. Akhirnya Engkon kembali ke Parakan dengan menggunakan Angkot 05.
"Ya sabar atuh Mang Engkon. Ini musibah. Lain kali mah nggak usah jauh-jauh keluar kompleks," kataku.
"Muhun pak, meni tega nya nipu abdi jalma leutik,"
(Ya pak, kok tega benar mereka menipu saya rakyat jelata ini.)
Ya, dalam keadaan hidup yang makin susah ini, orang susah akan saling memakan oang susah. Homo Homini Lupus.***
Umurnya yang tua itu tidak memungkinkan lagi bersaing dengan para pengemudi becak lainnya yang lebih muda, yang mampu menerobos ganasnya jalan by pass, atau Soekarno Hatta. Mang Engkon lebih memilih mangkal di dalam kompleks. Becak biru tua adalah alat dia berjihad mencari nafkah. Lumayan di kompleks banyak yang meminta bantuan dia, mulai membelikan Aqua galon, mengantar anak ke TK Luqmanul Hakim, hingga menyuruh membelikan bunga tanam di depan kompleks. Mang Engkon juga menjadi mata dan telinga keamanan kompleks. Kalau ada yang mencurigakan, dia suka laporkan ke hansip.
Di pertigaan jalan Parakan Elok dan Parakan Asih, ada kios milik Mang Entis dan Burhan. Di samping kios itu ada brandgang yang disulap Mang Ekon menjadi tempat dia tidur. Mungkin karena bertahun-tahun tidur di situ, dia punya penyakit bronchitis. Kadang kalau sakit, saya suka minta tolong Dedi atau dokter Rachmat Gunadi untuk memeriksanya. Beruntung, para dokter baik tiu selalu mau diganggu untuk urusan warga.
Malah sekalian suka memberi uang buat Mang Engkon untuk membeli obat.
Nah...ada satu hal yang membuat penghuni kompleks agak kesal kalau menolong Mang Engkon saat dia sakit. Setiap dapat uang bantuan, dia selalu nggak mau membelikannya untuk obat.
"Lebar...artos sakieu ageungna mending dicandak wae ka lembur."
(Sayang, uang sebegini besarnya mending dibawa pulang ke kampung).
Begitula Engkon..
Kalau sudah sehat, dia mangkal dan menggenjot lagi si beca birunya.
***
Jumat 28 November, sekitar jam 9 pagi saya berangkat ke kantor.
Saat melewati kios Ohan, saya melihat Engkon tengah duduk termenung. Dia memicing-micingkan matanya. Keriput di kelopak matanya makin kentara.
Saya berhenti sebentar sambil bertanya:
"Kunaon Mang Engkon siga nu sedih?"
("Kenapa Mang Engkon, seperti yang sedih?")
Ditanya begitu, Engkon tak menjawab. Mungkin karena sedihnya. Dia cuma menatap padaku.
Mang Entis lah yang menjawab."Ada yang menipu pak. Becaknya diambil orang," kata Entis.
Sehari sebelumnya, kata Entis, ada dua orang minta diantar ke Jalan Mohammad Toha untuk mengambil barang pindahan. Engkon sendiri sebetulhnya sempat menolak, karena untuk ukuran becak tua dengan pengemudi tua, Jalan Mohammad Toha itu cukup jauh dari Jalan Buah Batu.
Namun karena tergiur tawaran ongkos yang besar, Engkon pun mau.
Sampai di sebuah gang di jalan Moh. Toha, satu orang mengajak Engkon untuk ikut ke dalam gang, di mana becak enggak bisa masuk. Seorang lagi menunggu di becak Engkon.
Engkon dan si pemuda itu berjalan cukup jauh ke dalam gang yang berbelit-belit itu, sampai suatu saat pemuda itu masuk ke gang lain, dan tiba-tiba menghilang!!
Mang Engkon bingung mencari-cari pemuda itu sampai setengah jam lebih. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke becaknya.
Sampai di ujung depan gang, Engkon kaget setengah mati, becaknya sudah raib!
Langsung dia terduduk lemas di mulut gang. Sadar dia tertipu, orang tua itu cuma bisa menangis. Rasa kalut menggelayut. Dia ingat kepada istrinya di kampung. Orang-orang pun mengerumuninya. Akhirnya Engkon kembali ke Parakan dengan menggunakan Angkot 05.
"Ya sabar atuh Mang Engkon. Ini musibah. Lain kali mah nggak usah jauh-jauh keluar kompleks," kataku.
"Muhun pak, meni tega nya nipu abdi jalma leutik,"
(Ya pak, kok tega benar mereka menipu saya rakyat jelata ini.)
Ya, dalam keadaan hidup yang makin susah ini, orang susah akan saling memakan oang susah. Homo Homini Lupus.***
Saturday, October 04, 2008
Eid Mubarak
SETIAP hari, pria itu pergi ke masjid. Setiap kali itu pula seorang Yahudi meludahinya, melemparinya dengan batu, menghinanya dengan kata-kata menusuk hati. Namun, semuanya tak mampu menghentikan kakinya menuju rumah Allah.
Suatu hari, pria rendah hati itu berangkat lagi ke mesjid itu.
Heran...kali ii si peludah itu tidak muncul. Satu..dua..tiga hari, dia tidak muncul. Tak ada ludah bau yang disemprotkan ke wajah pria itu, tak ada kerikil yang membentur tubuhnya lagi.
Si pria agung ini kemudian bertanya:"Kemana gerangan si fulan yang suka meludahi aku?"
Aha...rupanya si peludah itu tengah tergolek sakit di kediamannya. Tak pernah ada tetangga yang menjenguknya.
Si pria itu itu mengunjunginya.
Seraya mengucap salam, si pria ini mengetuk pintu si peludah.
Pucat pasi wajah si peludah ketika mengenali suara pria di balik pintu itu. Dia merasa ajalnya dekat karena mengira si pria ini datang untuk membunuhnya. Tak akan ada daya dia untuk melawan, tubuhnya terlalu lunglai.
Ternyata tidak...
Si pria itu datang, membawa tiga butir kurma.
Dibopongnya tubuh lunglai itu...
Disuapinya si pria itu dengan kurma terbaik yang dibawa si pria itu...
Ditegukkan air dengan perlahan sehingga basahlah bibir, mulut dan tenggorokannya...
Setelah itu, dibaringkannya lagi sosok kekar yang sedang lemah itu di ranjangnya...
Disematkan lagi selimut...
Dari ranjang tua reyot itu, si sakit memandang wajah si pria agung itu...
Batinnya terguncang, rasa bersalah membuncah menyesakkan dada...
Mulutnya terkunci...
Hanya air mata yang mampu menjelaskan keguncangan batinnya..
Hanya air mata yang mampu menjelaskan kekagumannya akan ahlak si pria ini...
"Muhammad, ketika tak seorang pun datang melihat aku yang tengah sakit ini, kau yang kuanggap sebagai musuh besarku, kau yang selalu kuhinakan, datang kepadaku menyiramkan kasih sayang..."
"Sudahlah, tidurlah lagi. Kau masih perlu istirahat!" kata Muhammad.
.............
Salam dan salawat bagimu yang Muhammad.
Engkau bak bunga teratai (sidratul muntaha)yang tumbuh dan mekar...
Kau ajari kami bahwa dengan memaafkan penyakit hati menjadi sirna...
Kau adalah inspirasi...
Kau adalah fitrah...
Kau adalah damai...
Kau adalah doa...
Kau adalah...
(Selamat Idulfitri. Mohon maaf lahir batin)***
Suatu hari, pria rendah hati itu berangkat lagi ke mesjid itu.
Heran...kali ii si peludah itu tidak muncul. Satu..dua..tiga hari, dia tidak muncul. Tak ada ludah bau yang disemprotkan ke wajah pria itu, tak ada kerikil yang membentur tubuhnya lagi.
Si pria agung ini kemudian bertanya:"Kemana gerangan si fulan yang suka meludahi aku?"
Aha...rupanya si peludah itu tengah tergolek sakit di kediamannya. Tak pernah ada tetangga yang menjenguknya.
Si pria itu itu mengunjunginya.
Seraya mengucap salam, si pria ini mengetuk pintu si peludah.
Pucat pasi wajah si peludah ketika mengenali suara pria di balik pintu itu. Dia merasa ajalnya dekat karena mengira si pria ini datang untuk membunuhnya. Tak akan ada daya dia untuk melawan, tubuhnya terlalu lunglai.
Ternyata tidak...
Si pria itu datang, membawa tiga butir kurma.
Dibopongnya tubuh lunglai itu...
Disuapinya si pria itu dengan kurma terbaik yang dibawa si pria itu...
Ditegukkan air dengan perlahan sehingga basahlah bibir, mulut dan tenggorokannya...
Setelah itu, dibaringkannya lagi sosok kekar yang sedang lemah itu di ranjangnya...
Disematkan lagi selimut...
Dari ranjang tua reyot itu, si sakit memandang wajah si pria agung itu...
Batinnya terguncang, rasa bersalah membuncah menyesakkan dada...
Mulutnya terkunci...
Hanya air mata yang mampu menjelaskan keguncangan batinnya..
Hanya air mata yang mampu menjelaskan kekagumannya akan ahlak si pria ini...
"Muhammad, ketika tak seorang pun datang melihat aku yang tengah sakit ini, kau yang kuanggap sebagai musuh besarku, kau yang selalu kuhinakan, datang kepadaku menyiramkan kasih sayang..."
"Sudahlah, tidurlah lagi. Kau masih perlu istirahat!" kata Muhammad.
.............
Salam dan salawat bagimu yang Muhammad.
Engkau bak bunga teratai (sidratul muntaha)yang tumbuh dan mekar...
Kau ajari kami bahwa dengan memaafkan penyakit hati menjadi sirna...
Kau adalah inspirasi...
Kau adalah fitrah...
Kau adalah damai...
Kau adalah doa...
Kau adalah...
(Selamat Idulfitri. Mohon maaf lahir batin)***
Sunday, September 28, 2008
Finally, PR Mobile!
SESUDAH berbulan-bulankerja keras, akhirnya tim yang saya pimpin berhasil merampungkan platform baru Pikiran Rakyat, yaitu PR Mobile. Kami menggunakan teknologi micropage, di mana file-file berita, foto dan info dikompresi hingga 80%. Jadi kalau ada gambar berukuran 1 megabyte, dengan teknologi ini dikompres sampai 200 Kb saja. Dengan demikian akses menjadi lebih cepat, dan karena lebih cepat, ongkos koneksinya pun jauh lebih rendah.
selamat mencoba.!***
Jika Anda ingin mengetahui konten PR mobile, ikuti tahap berikut:
1. Aktifkan GPRS Anda
2. Ketik Instal PR kirim ke 081910620000
atau silakan unduh (download) aplikasi PR mobile di hp Anda dari http://www.mobeenet.com/wappr
selamat mencoba.!***
Thursday, September 25, 2008
Pertanyaan Untuk Perazzia Warung di Bulan Ramadan
RABU (25/9/2008),sesaat setelah buka puasa, mata saya tertuju kepada siaran berita di televisi. Sekelompok orang di Tasikmalaya mengobrak-abrik warung makanan yang buka di siang hari. Menurut mereka, para pedagang ini tidak menghormati bulan Ramadan. Bulan puasa ini seharusnya berjalan khidmat.
Aksi mereka akhirnya dihentikan polisi. Sebagian dari mereka ditangkap polisi.
Tentu saja saya setuju bahwa bulan puasa harus dihormati, dan harus berlangsung dengan khidmat.
Hanya saja ada pertanyaan kecil saya kepada Anda:
1. Andaikata orang tua Anda tidak bisa berpuasa karena sudah renta, ke mana Anda akan mencari makanan. Karena pada saat sakit seperti itu, puasa yang tadinya wajib menjadi haram.
2. Andaikata istri, anak perempuan, adik dan kakak perempuan sahabat mendapatkan haid, ke mana mereka harus mencari makanan karena pada saat itu puasa yang wajib menjadi haram.
3. Andaikata Anda, saudara Anda, adik, kakak Anda sakit, ke mana Anda akan mencari makanan. Karena pada saat itu puasa menjadi haram?
4. Andaikata warung-warung itu dihancurkan, bagaimana buruh-buruh kasar penggali pasir dan batu bisa mendapatkan makanan? Mereka terpaksa tidak bisa puasa karena wajib menafkahi anak dan istrinya. Jika puasa itu menyebabkan anak istrinya tidak ternafkahi, maka Allah memberikan keringanan kepada mereka untuk tidak berpuasa.
5. Andaikata warung-warung itu dihancurkan, dari mana si pemilik warung bisa membelikan makanan untuk buka puasa anak-anak dan istrinya? Dari mana dia bisa membelikan baju baru untuk anak-anak dan istrinya?
6. Andaikata warung-warung itu dihancurkan, dari mana si pemilik warung bisa mendapatkan uang untuk membayarkan zakat fitrah anak dan istrinya? Sebab, puasa tanpa membayar zakat fitrah adalah sia-sia.
Saya yang tidak mempunyai pengetahuan agama yang mendalam ini memerlukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas.***
Subscribe to:
Posts (Atom)