EMPAT Desember 2007, dari Markas Polda Jawa Barat di Bandung, ibu saya yang sudah berusia 70 tahun berangkat ke Tanah Suci sendirian. Meski berumur seperti itu, fisiknya masih kuat. Orang tidak akan percaya kalau usianya sudah tujuh dekade. Sosoknya lebih muda dari yang seharusnya. Ibu adalah anggota Komite Sekolah sebuah SMP negeri di Bandung. Ketahanan fisiknya oke. Kadang-kadang dia keluar masuk gang untuk mengetahui kondisi muridnya. Pernah dia mendapatkan seorang siswi yang menderita Lupus. Maka, langsung dia menyerahkan si anak itu kepada saya. Maklum, saya adalah realawan Yayasan Syamsi Dhuna, itu yayasan yang menaungi penderita Lupus.
Seharusnya sih beliau menunaikan ibadah haji tahun lalu. Namun nama ibu cuma ada di waiting list.
Sedih?
Iya sih...Namun dia dan kami mencoba tegar.
Di balik kacamatanya, saya lihat matanya yang berbinar ketika mencium kening dan pipi kami, tujuh anaknya.
Ibu adalah orang yang pantang mengeluarkan air mata, sesulit apa pun persoalan yang dia temui. Maka, saya bilang kepada adik-adik dan kakakku untuk tidak menangis melepas kepergiannya. Let her do her spiritual journey.
Tapi ketika melambaikan tangan dari jendela bis, tetesan bening itu pun turun.
Bis berlalu dengan cepat. Tapi kami, anak dan cucunya, bisa melihat jelas tetesan yang sebening permata itu.
Permata bening nan suci, sesuci kasih sayangnya kepada kami.
Ibu datang memenuhi undanganNya.
Maka...
Biarlah setiap tetesan keringat dan setiap tetesan air matanya mempermudah kesaksiannya di hadapan Tuhan, kelak.
Good luck Mom, come back home soon. We love you very much...***
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
1 comments:
Sumuhun..leures pisan Ki Guru. Indung teh tunggul rahayu. Duka tah hartosna kumaha? Anu jelas kasih sayang seorang ibu kepada anaknya bisa menciptakan spiritualitas hidup hingga dia mampu bertahan ketika sang suaminya telah tiada.
Post a Comment