SETIAP bangun pagi, anak kami Rayhan biasanya langsung memegang "burungnya". O la...la...dia selalu pipis di dahan pohon rambutan di halaman belakang rumah kami. Maklum, Rayhan agak sedikit penakut kalau harus masuk kamar mandi. Sekarang usia anakku itu enam tahun. Kebiasaan pipis di dahan rambutan itu dia lakukan sejak umur dua tahun lebih.
Untung pohon rambutan kami tidak ngambek. Dia tumbuh, tumbuh dan terus tumbuh. Bahkan buahnya luar biasa banyak.
Dulu si pohon rambutan ini pernah berbuah banyak. Namun karena keluarga kecil, kami tak mampu mengonsumsi semua rambutan yang bergayut di ranting itu. Akhirnya sebagian besar rambutan itu mengering dan mubazir.
Di musim buah beberapa bulan kemudian, pohon rambutan kami berbuah lagi. Namun tidak sebanyak dan tidak semanis dulu. Saya pun enggan memakannya, karena nggak manis dan buahnya susah dilepas dari bijinya.
Kata istriku, orang Sunda punya kepercayaan bahwa pohon bisa pundung, atau mutung dalam bahasa Indonesia. Ketika buahnya banyak, dia menawarkan rezeki, tapi tidak kami makan. Maka dia mutung.
O ya...ya...
Pohon adalah mahluk hidup ciptaan Tuhan, yang juga ingin berbagi. Jadi, selayaknya kami petik dan nikmati buahnya.
Tapi, kami keluarga kecil yang tidak mungkin mengkonsumsi semuanya.
Akhirnya, kami bagi-bagikan ke tetangga, ibu, tukang sampah, tukang cuci, tukang bubur, dan kepada tamu yang bertandang ke rumah.
Sejak itu, pohon rambutan kami terus berbuah, dan selalu kami panggil kenalan kami yang lewat untuk ikut memetik.
Bulan Februari ini, entah sudah berapa karung buah rambutan kami petik dan bagi-bagikan.
Subhanallah...masih banyak juga buahnya yang bergayut, merah merekah.
Terimakasih Tuhan...
Kami bisa menikmati manisnya rambutan.
Dan...
Sang pohon mengajarkan kami sekeluarga tentang manisnya berbagi, kendati tiap pagi dia dipipisi si nakal kami.
We share the world, we share love and happiness.
Sekali lagi...
Terimakasih Tuhan.***
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
3 comments:
pohon peuteuy jg punya kesamaan dengan pohon rambutan. Akan tidak berbuah katanya, kalau ada yang nyoba-nyoba memakan peutey di atas dahannya. Pundung...panginten. Hehehe, ngomong-ngomong sekarang saya tidak bisa nembus koran lagi. Pundung kali...ni ye. Atawa banyak pikiran? good luck terus lah.
Pohon juga makhluk Tuhan. Ia ada untuk sebagai bagian dari kasih sayang Tuhan. Saya jadi semakin tersadarkan bahwa ternyata pohon juga punya bahasa. Kalau kita bisa memahami mereka mereka pun akan memahami kita. Bukankah banyak musibah bencana banjir, longsong dll. di Indonesia karena kita tidak memahami bahasa pepohonan.
Punten bilih aya bahasa nu lepat, sim kuring hoyong silaturahmi hungkul. hatur nuhun. orang UIN Bandung tea.
pohon itu memang bisa diajak kompromi lho... contohnya pohon jinten yang saya rawat, meski waktu itu potnya jatuh (dan tanamannya kebelah dua), setelah dirawat bisa kompromi dan berdaun banyak.. (padahal rawatnya biasa saja, bukan dengan teknik khusus). :D
Post a Comment