Monday, August 04, 2008

Banci

"BUKA bajumu! Cepaat!!
"Tidak mau, pak tidak mau...saya nggak bisa melepas baju saya!"
"Kamu bukan perempuan. Kamu itu laki-laki tahu nggak? Cepat buka!"
"Saya bukan laki-laki pak, saya ini banci. Pokoknya saya nggak mau mencopot baju saya," kata si banci sambil berjalan berputar-putar kecil di pojok sebuah bangunan.

Itulah penggalan perdebatan antara polisi yang merazzia kaum waria alias banci, yang saya tonton di televisi sekitar awal Agustus ini.
Banci, atau si jenis kelamin ketiga (third sex), memang dianggap sebagai sampah masyarakat. Keberadaannya tidak diakui. Agama memang mengatakan bahwa hanya ada dua jenis kelamin: perempuan dan laki-laki.
Dus, banci itu bukan keduanya...
Apakah banci itu nature atau nurture (alami atau jejadian)?
I don't know...
Mereka adalah mahluk yang tanggung. Menjadi kuli bangunan jelas nggak mungkin. Tubuhnya terlalu lunglai...
Menjadi teller bank, nggak mungkin juga. Katanya cantik, tapi kok ada jakunnya, begitu nanti nasabah bilang.
Tapi pandanglah mereka sebagai manusia, yang mempunyai rasa malu, rasa lapar, rasa haus dan lain-lain..
Jadi, jangan main paksa supaya dia buka bajunya...itu melanggar hak asasi manusia.***

3 comments:

cassle said...

Hahaha, setuju-setuju! :) Biar bagaimana pun, mereka juga manusia, dan manusia memiliki hak untuk dihormati bukan? :)

Anwari Doel Arnowo said...

Mereka tidak minta dilahirkan seperti itu. Ternyata itu banyak yang memang genus nya sudah demikian. Silakan baca tulisan saya di www.superkoran.info cari di search dan tulislah nama saya lengkap, klik enter dan cari di exact words klik enter lagi nanti akan muncul tulisan saya semuanya hampir dua ratus judul. Cari yang LGBT-Lesbian,Gay,Bisexual dan Transgender. Anda juga bisa lihat photo-photonya.
Semoga kita bisa menerima ciptaan Allah karena ada banyak sekali mereka itu di dunia ini. Masyarakat seharusnya tidak memusuhi mereka.
Salam saya
Anwari Doel Arowo - 20/09/2008
anwaridarnowo@gmail.com

Budhiana said...

Terimakasih cassle dan pak anwari. Saya cuma miris saja melihat petugas negara membentak-bentak mereka yang tersingkir.